POLMAN, KATASULBAR.ID - Sebanyak 47 siswa tingkatan SMA Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 22 Polman didampingi dengan Kepala Sekolah, PIC SRT 22 Polman dan tenaga pengajar serta wali asuh serta empat orang Kadek Universitas Pertanahan (Unhan) melakukan kunjungan edukasi ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Polewali, Kamis 22 Oktober.
Kunjungan ini memberikan kesempatan kepada para siswa untuk melihat secara langsung berbagai kegiatan pembinaan warga binaan, mulai dari pengembangan keterampilan, kegiatan produktif, hingga program pendidikan yang diselenggarakan di dalam Lapas Kelas II B Polewali.
Kunjungan ke Lapas Kelas II Polman ini bertujuan untuk memberikan pemahaman nyata kepada siswa mengenai dinamika sosial dalam lingkungan pemasyarakatan serta pembinaan terhadap warga binaan.
Kepala Lapas Kelas II B Polewali, Sudarno mengatakan pihaknya mengapresiasi SRT 22 Polman mengajak kolaborasi dalam memberikan edukasi kepada siswa untuk mengenal lingkungan Lapas.
Menurut Kalapas Kelas IIB Polewali, pentingnya mengubah stigma negatif masyarakat terhadap Lapas melalui pendekatan edukasi sejak usia sekolah.
"Kami sangat mengapresiasi inisiatif kunjungan edukatif ini dari SRT 22 Polman ini. Lapas bukan lagi tempat penghukuman yang menyeramkan, melainkan wadah pembinaan dan penyiapan warga binaan untuk kembali ke masyarakat. Melalui pemahaman reintegrasi sosial yang benar, kami berharap para siswa menjadi agen edukasi di lingkungan mereka agar tidak ada lagi pengucilan terhadap mantan Narapidana yang telah dibina," harapnya.
Selain itu, warga binaan juga memberikan testimoni bentuk motivasi kepada siswa agar tidak terjerumus ke hal-hal negatif kedepannya. Selain itu para siswa mendapat pemahanaman terkait pembinaan yang dilakukan.
Dalam kunjungan tersebut, para siswa diberikan pemahanan gambaran umum tekait Lapas Kelas II Polewali. Termasuk alur pelayanan, pembinaan, dan pemenuhan hak-hak administratif warga binaan. Usai materi, para siswa diajak untuk berkeliling area Lapas Polewali dan diberikan penjelasan oleh petugas mengenai berbagai aktivitas pembinaan yang dilakukan oleh warga binaan.
Mulai dari pengolahan sampah organik dan non organik, budidaya tanaman organik, hingga pembuatan produk meubelair dan kerajinan tangan. Salah satu hal yang menarik perhatian adalah pengenalan hasil karya kreatif warga binaan Lapas Kelas II B Polewali berupa kerajinan tangan dan seni. Serta usaha tata boga pembuatan roti dan kue yang dibuat dalam program pembinaan keterampilan. Bahkan siswa diajak membuat adonan kue roti hingga mencicipinya.
Selain keterampilan, siswa juga melihat pembinaan kerohaniaan dan pendidikan non formal paket C di dalam lingkungan Lapas.
"Kami ingin menunjukkan bahwa di balik dinding Lapas Polewali, ada proses pembelajaran yang terus berlangsung. Warga Binaan diajarkan berbagai keterampilan agar dapat menjadi individu yang lebih baik saat kembali ke masyarakat," tutur Sudarno.
Kepala Subseksi Registrasi dan Bimkemas Lapas Polewali, Asriani Darmawan, menjelaskan secara teknis bagaimana tahapan pembinaan di Lapas menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi sebelum proses reintegrasi ke masyarakat dapat dijalankan.
Dalam kesempatan ini, Ia memberikan pemahaman kepada siswa terkait hak hak dan kewajiban warga binaan di Lapas. Termasuk persyaratan mendapatkan remisi, pembebasan bersyarat atau cuti bersyarat hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar menunjukkan perubahan perilaku positif dan aktif mengikuti pembinaan selama di Lapas.
Selama kegiatan berlangsung, para siswa tampak antusias berdiskusi dengan petugas Lapas dan beberapa warga binaan. Mereka juga diajak untuk memahami nilai-nilai kemanusiaan, seperti empati dan pentingnya kesempatan kedua bagi individu yang pernah melakukan kesalahan. Kegiatan ini pun menjadi cerminan bahwa pembinaan sosial tidak hanya terjadi di luar Lapas, tetapi juga dalam lingkungan pemasyarakatan.
Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 22 Polman, Muhiddin mengatakan tujuan siswanya berkunjung ke Lapas Polewali sebagai edukasi mengenal lingkungan Lapas dan pembinaan yang dilakukan. Termasuk memberikan pemahaman kepada siswa agar tidak terjerumus ke hal negatif yang berdampak hukum sehingga menjadi warga binaan.
"Kami kunjangan ini, siswa mendapatkan pengalaman empiris yang luar bagaimana kehidupan dalam Lapas. Sehingga wawasan siswa kami tentang pentingnya pembinaan di dalam Lapas. Mereka juga bisa melihat langsung bagaimana warga binaan menjalani proses perbaikan diri, yang tentunya menjadi pelajaran berharga dalam memahami perubahan sosial," terang Muhiddin.
Melalui kunjungan ke Lapas, siswa dapat melihat penerapan pembinaan keterampilan dan kegiatan produktif yang dijalankan warga binaan kemudian nantinya bisa diterapkan di sekolah. Khususnya pengolahan sampah organik dan non organik.
Kunjungan edukatif ini membuka mata para pelajar bahwa setiap orang yang pernah salah berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk menjadi pribadi yang lebih baik. (ma)
Komentar (0)